Brastagi, Sumut, 28/1 (ANTARA) - Petani di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara terpaksa membuang hasil pertaniannya seperti kentang dan tomat, karena anjloknya harga komoditas pertanian tersebut di pasar lokal.
“Kami terpaksa membuang atau membiarkan tanaman kentang dan tomat hingga busuk di pohon, karena harga jual jatuh hanya Rp 2.000 per kg,” ungkap Anto Barus petani di Desa Laugendek, Tanah Karo kepada ANTARA, Kamis.
Petani sayur-mayur itu mengemukakan, tidak ada gunanya memanen hasil pertaniannya kalau hanya rugi, sebab harga tidak menutupi biaya panen dan transportasi sehingga lebih baik dibiarkan membusuk di pohon atau diberikan kepada orang.
Sebelumnya harga tomat di tingkat petani sempat Rp7.000 per kg dan kentang Rp6.000 per kg, tetapi kini harganya benar-benar anjlok, tutur Anto yang mengaku kini harus melakukan diversifikasi tanaman.
Diversifikasi tanaman yang dilakukan petani Karo tersebut, seperti mengembangkan tanaman jeruk manis, daun prei, cabai merah dan terong belanda yang harganya di pasaran cukup stabil.
Seperti harga jeruk di tingkat petani masih bertahan Rp5.000 per kg, cabai merah Rp8.000 per kg, terong belanda Rp7.000 kg dan permintaan juga cukup tinggi.
Petani yang memiliki lahan seluas sepuluh hektare itu, mengharapkan harga sayur-mayur kembali membaik sehingga mereka bisa menguliahkan anak sampai menjadi sarjana.***2***
(T.S015/B/M034/M034) 28-01-2010 11:06:15
Popularity: 1% [?]