Fungsionaris: PDI Perjuangan Bukan Partai Preman

Medan, 4/7 (ANTARA) – Citra PDI Perjuangan yang kerap diidentikkan sebagai partai preman dibantah keras oleh fungsionaris partai itu, Hasyim, SE.

“PDI Perjuangan justru merupakan partai nasionalis dan religius yang mampu merangkul semua lapisan masyarakat.PDI Perjuangan rumah besarnya kaum nasionalis yang terbuka untuk siapa saja,” katanya di Medan, Jumat.

Tudingan yang menyebutkan PDI Perjuangan partai preman, menurut dia sangat tidak beralasan.

“Kita bahkan punya Baitul Muslimin sebagai organisasi sayap pendukung untuk mewadahi kader dan simpatisan yang religius. Kita juga punya Banteng Muda Indonesia, Taruna Merah Putih dan Repdem yang siap mengawal Pancasila dan UUD 1945. Jadi kita ini bukan partai preman,” tegas Hasyim.

Ia menjelaskan, istilah preman sendiri berasal dari kata “free man” yang berarti (orang-orang bebas), sementara PDI Perjuangan memiliki aturan dan kode etik yang mengikat kader-kadernya.

“Kader PDI Perjuangan yang banyak diisi kalangan profesional, akademisi dan pengusaha terikat dengan aturan partai.Bebas berekspresi dan berpendapat tapi tetap dalam batas kode etik kader dan aturan partai,” jelasnya.

Caleg terpilih PDI Perjuangan untuk DPRD Kota Medan bernama Tionghoa, Oei Kien Lim itu menilai tudingan yang menyebutkan PDI Perjuangan partai preman merupakan upaya-upaya untuk menjatuhkan citra partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu.

“Itu merupakan bagian dari politik kotor untuk mendiskreditkan dan merusak nama baik partai.Kita menyayangkan cara-cara berpolitik seperti ini, apalagi kita akan menghadapi pilpres,” katanya.

Menurut tokoh pengusaha yang mengaku pengagum Bung Karno itu, PDI Perjuangan memiliki jati diri kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial dengan watak demokratis, merdeka, pantang menyerah dan terbuka.

Semua itu, katanya, merupakan modal perjuangan untuk membangun karakter bangsa serta menggerakkan kekuatan dan memperjuangan aspirasi rakyat menjadi kebijakan negara.

Hasyim menjelaskan, PDI Perjuangan memiliki visi yang sama dengan Pancasila dan UUD 1945, yakni bertekad membangun dan mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan.

“Bangsa Indonesia harus menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai karakter dan jati diri bangsa, sebagai sumber inspirasi dan landasan utama.Visi ini merupakan cita-cita bersama bangsa Indonesia itu sendiri,” katanya. ***1***
(T.R014/B/M034/M034) 03-07-2009 17:27:29

Bookmark and Share

Popularity: 3% [?]

Posted by riza mulyadi on Jul 4th, 2009 and filed under Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Leave a Reply