Nilai Ekonomi Ekosistem KHBT Rp3,6 Triliun

Tarutung, SUMUT, 7/3 (ANTARA) - Berdasarkan dokumen “conservation international” tahun 2006, nilai total ekonomi ekosistem Kawasan Hutan Batang Toru (KHBT), Sumatera Utara mencapai Rp3,6 triliun per tahun.

Secara rinci, nilai ekonomi guna tak langsung KHBT seperti untuk penahan bencana, pengatur air, pencegah erosi Rp69 miliar per tahun, kata Direktur Perkumpulan Pengembangan Partisipasi Untuk Rakyat (Petra), Monang Siringoringo, di Tarutung, Jumat.

Sedangkan total nilai guna langsung berupa hasil hutan kayu, pariwisata, PLTA, PLTP, tambang emas senilai Rp3,5 triliun.

Dua kawasan hutan yang letaknya berdampingan yakni Hutan Dolok Ginjang (HDG) seluas 8.223,837 ha dan Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB) seluas 18.262,35 ha, di Kecamatan Adian Koting (45762.70 ha) Tapanuli Utara merupakan dua kawasan penting.

HDG merupakan habitat utama harimau Sumatera yang masih tersisa  dan HBTBB menyimpan 67 jenis mamalia, 287 jenis burung, 110 jenis herpetofauna dan 688 jenis tumbuhan.

Berdasarkan status konservasinya, teridentifikasi 20 spesies mamalia yang dilindungi, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999, di mana 12 spesies dalam status terancam.

“Kedua kawasan hutan itu merupakan habitat orangutan dan harimau Sumatra yang masih ada di kawasan Tapanuli,” katanya.

Sementara dalam hal pelestarian hutan, lanjut dia, umumnya masyarakat di 53 desa yang ada di kawasan itu  mengetahui dimana Batas Buswesen/pilar yang pernah dibuat Belanda dan mereka mentaati tapal batas tersebut.

Namun di tapal batas kawasan hutan Ulayat, Hutan Rakyat, Hutan Marga yang ada di dekat desa, karena tidak ada alas legalitas kepemilikan.

Sekitar 90 persen penduduk di sekitar kawasan hutan Batang Toru telah mengembangkan berbagai bentuk sistem pertanian berbasis pohon, yang secara dinamis menyesuaikan kondisi kelerengan yang curam dengan tanah relatif kurang subur.

Bentuk sistem-sistem pertanian berbasis pohon tersebut berupa agroforestri/wanatani kemenyan, sehingga memicu banyak kebun campur tua yang kurang terkelola.

Ia mengatakan, keberadaan spesies kunci dalam kawasan  HBTBB dan  Dolok Ginjang merupakan indikator dari adanya kekayaan keanekaragaman hayati, sehingga areal tersebut menjadi penting dari sisi konservasi keanekaragaman hayati yang ada.
Keberadaan dua spesies kunci dalam dua kawasan tersebut juga membuat kedua kawasan hutan ini menjadi sangat strategis dan berpotensi pula menimbulkan konflik manusia-satwa yang serius.***3***

(PK-JRD)

(T.PK-JRD/C/S015/C/S015) 06-03-2009 19:19:46

Bookmark and Share

Artikel ini telah dibaca 16 kali.

Popularity: 3% [?]

Posted by zuraidi on Mar 7th, 2009 and filed under Lingkungan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Leave a Reply