Jakarta, 20/11 (ANTARA) - Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Arip Musthopa, menyatakan, demokrasi Indonesia masih belum mapan dan menuntut tingkat partisipasi yang luas dari rakyat.
“Perubahan bangsa ke arah yang lebih baik, juga menuntut partisipasi luas dari rakyat. Dan Pemilu merupakan momentum atau pintu masuk ke arah tersebut,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Hal tersebut dikatakan Arip Musthopa mengomentari tentang kejenuhan publik atas munculnya banyak partai, lengkap dengan iklan-iklannya yang membingungkan.
Kendati begitu, HMI menurut dia, tidak begitu sependapat dengan wacana ‘golongan putih’ atau golput yang terus digembar-gemborkan sejumlah pihak, termasuk diberitakan beberapa media massa.
Golongan putih merupakan sebutan dari kelompok masyarakat yang tidak mau menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu.
“Kami berpendapat, Pemilu itu merupakan momentum atau pintu masuk ke arah perubahan yang lebih baik pada demokrasi Indonesia yang belum mapan,” tegasnya.
Karena itu, ujarnya lagi, pihaknya menilai, ‘gerakan golput’ yang diusung mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), merupakan bentuk pengingkaran atas upaya membangun demokrasi partisipatif dengan didasarkan pada kekecewaan pribadi serta kelompoknya.
Yang dibutuhkan saat ini, katanya, bukan apatis terhadap Pemilu seperti ‘golput’ melainkan partisipasi aktif dengan menjadi dan membangun gerakan pemilih cerdas.
“Cerdas memilih adalah jalan keluar atas berbagai permasalahan bangsa saat ini,” kata Arip Musthopa.
Sebelumnya, Gus Dur yang juga Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kembali menyeru pimpinan PKB di daerah dari tingkat provinsi hingga kecamatan yang setia kepadanya untuk memboikot pemilu, baik Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) dan Pemilu Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
“Semua pemilu kita boikot,” kata Gus Dur saat menggelar jumpa pers di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jakarta, Rabu (19/11).
Aksi boikot tersebut, menurut Gus Dur, dilakukan dengan tidak mendaftarkan calon pada KPU dan KPU daerah, tidak berkampanye untuk siapapun dan dengan sengaja menjauhi pendaftaran yang dilakukan oleh KPU setempat.
***3***
(T.M036/B/A041)
(T.M036/B/A041/A041) 20-11-2008 21:31:41)
Popularity: 3% [?]
Pernyataan Gusdur sangat tidak bijak sebagai mantan Presiden dalam membangun demokrasi di negeri ini. Indonesia butuh tokoh yang komitment melihat masa depan bangsa, bukan tokoh yang hanya berkutat pada konflik pribadi yang tidak substansi dan menghabiskan energi masyarakat.
Saya mengajak kepada masyarakat untuk tidak menanggapi pernyataan Gusdur dengan serius, karena orangnya juga tidak serius.