Medan, Kotaku Sayang, Kotaku Tergenang

Kota Medan yang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara mungkin layak disebut kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Selain pembangunannya yang cukup pesat, intensitas kegiatan masyarakat di daerah yang berpenduduk dua juta lebih itu juga cukup tinggi. Sedikitnya, terdapat 12 pusat perbelanjaan besar yang ramai dikunjungi warga di kota yang akan menuju metropolitan tersebut. Selain itu, terdapat pula empat hotel bintang lima yakni Grand Angkasa Hotel, Cambridge Hotel dan Apartement, Hotel Arya Duta serta Hotel JW. Marriot.

Berdasarkan data yang dihimpun di Dinas Pariwisata Sumut terdapat juga enam hotel bintang empat, enam hotel bintang tiga, empat bintang dua dan delapan hotel bintang satu. Jumlah tersebut masih di luar hotel-hotel yang sedang dalam pembangunan seperti Crystal Square Hotel dan Aston International Hotel. Kota Medan juga semarak di waktu malam dengan banyaknya pusat jajanan malam, di antaranya Merdeka Walk, Cafe Sudirman, Cafe Gajah Mada dan Cafe Dr. Mansyur.

Kondisi itu menyebabkan warga Kota Medan sering membanggakan kota yang sering disebut miniatur Indonesia itu. Namun sayangnya, kemewahan dan fasilitas yang disediakan tersebut tidak didukung infrastruktur jalan dan drainase yang memadai. Kota Medan sangat rentan terhadap banjir dan genangan air, meski “hanya” diguyur hujan selama satu jam.

Tergenang di kala hujan

Ruas-ruas jalan Kota Medan selalu tergenang jika menerima curah hujan, meski curah hujan yang terjadi relatif tidak terlalu lama.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan setiap kali turun hujan, sedikitnya terdapat 16 ruas jalan utama di Kota Medan yang selalu banjir dan mengalami ketergenangan air.

Ruas jalan itu adalah Jalan Willem Iskandar, Jalan Letda Sujono, Jalan Raden Saleh, Jalan Stasiun, Jalan Sisinga Mangaraja, Jalan Sutomo, Jalan Gatot Subroto, Jalan AH Nasution, Jalan Denai, Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Yos Sudarso.

Jumlah itu di luar ruas jalan kecil seperti Jalan Pelita II, Jalan Kapten Jamil Lubis, Jalan Pahlawan, Jalan Tangguk Bongkar, Jalan Selamat dan Jalan Pertahanan. Jika hujan turun lebih deras dan lebih lama, maka genangan airnya akan lebih tinggi dan tidak jarang merendam rumah warga.

Jumlah ruas jalan yang tergenang itu semakin banyak jika dilihat ke pinggiran Kota Medan yang yang merupakan daerah perbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kota Binjai. Contohnya, daerah Lau Dendang, Percut, Desa Medan Estate dan Perumnas Mandala Medan yang merupakan bagian Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Demikian juga dengan daerah Sunggal dan Diski, Deli Serdang yang berbatasan langsung dengan Kota Binjai.

Ganggu Aktivitas Warga

Banyaknya ruas jalan yang tergenang air ditambah dengan tingginya genangan sangat mengganggu aktivitas warga. Selain memacetkan arus lalulintas, tingginya genangan air juga menyebabkan banyak kendaraan yang mogok akibat knalpot atau mesin kendaraannya kemasukan air. Berdasarkan pemantauan pula, sedikitnya terdapat lima lokasi kemacetan arus lalulintas di Medan akibat banyaknya kendaraan warga yang mogok pada saat banjir melanda kota ini.

Lima lokasi itu adalah Jalan Stasiun Medan, persis di depan stasiun kereta api yang bersebelahan dengan Lapangan Merdeka Medan. Di tempat itu, genangan air mencapai tigaperempat meter, sehingga banyak kendaraan warga mogok, khususnya yang memiliki knalpot rendah yang mudah dimasuki air. Selanjutnya di sepanjang Jalan Metereologi Medan, Simpang Lau Dendang dan Jalan Willem Iskandar, persis depan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara. Sedangkan lokasi yang terparah mengalami genangan air dan banyaknya kendaraan warga yang mogok adalah di Jalan Letda Sujono yang sangat dekat dengan pintu tol Bandar Selamat Medan.

PT Jasa Marga Belawan, Medan dan Tanjung Morawa (Belmera) bahkan terpaksa menutup salah satu pintu gerbang tol Bandar Selamat dan mengalihkannya ke pintu I di KM 20. Hal itu dilakukan agar mobil yang keluar dari gerbang tol tidak ikut terjebak macet dan mogok, kata Staf Control Komunikasi PT Jasa Marga Belmera, Handoyo. PT Jasa Marga Belmera sengaja mengalihkan pintu keluar itu agar mobil yang relatif rendah seperti sedan tidak ikut terjebak macet dan mogok karena knalpotnya kemasukan air.Namun kendaraan besar seperti truk dan container diperbolehkan keluar di pintu semula jika bersedia mengalami kemacetan, kata Handoyo.

Drainase “Amburadul”

Seringnya Kota Medan digenangi air lebih disebabkan “amburadulnya” sistem drainase yang terdapat di daerah itu, meski pernah menerima dana ratusan miliar rupiah dalam proyek Metropolitan Medan Urban Development Project (MMUDP). Namun, proyek MMUDP itu gagal total, sehingga Kota Medan tetap menjadi “langganan” banjir, kata Ketua Lembaga Konsumen Indonesia (LKI) Sumut, Abu Bakar Siddik, SH. Proyek MMUDP tersebut sebenarnya sangat bagus untuk memperbaiki sistem drainase dan mengatasi masalah banjir yang menjadi “langganan” Kota Medan. Namun, proyek untuk perbaikan sistem drainase bagi kawasan Medan, Binjai Deli Serdang (Mebidang) itu tidak jelas pemanfaatan dan pertanggungjawabannya.

“Akibatnya, proyek yang sangat bagus itu sering diplesetkan menjadi ‘Medan Mencari Uang Dalam Parit’,” kata Abu Bakar.

Ia juga mempertanyakan pemanfaatan dan pertanggungjawaban APBD Kota Medan yang setiap tahun menganggarkan puluhan miliar rupiah untuk memperbaiki sistem drainase di daerah itu.

“Seakan-akan drainase di Kota Medan tetap dibiarkan jelek agar PU (Dinas Pekerjaan Umum -red) bisa dapat proyek setiap tahun,” katanya.

Sementara itu, Dosen Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Drs. Sugiharto, MSi menyatakan, selain jeleknya sistem drainase, banjir dan genangan air sering terjadi karena tidak adanya sumur serapan di Kota Medan. Di tambah lagi, halaman rumah yang seharusnya dapat menyerap air justru disemen sehingga seluruh air hujan tumpah ke jalan. Pemko Medan perlu “belajar” dari kebijakan Pemkab Sleman, DI Yogyakarta yang mewajibkan warganya membuat sumur serapan jika ingin membangun rumah.Hasilnya, daerah Sleman hampir tidak pernah mengalami banjir karena air hujan yang turun dapat ditampung melalui sumur serapan tersebut.     Daerah yang secara geografis berada di bawah Sleman seperti Kota Yogya dan Bantul juga “selamat” karena tidak menerima banjir kiriman, katanya. Pemko Medan harus segera berbenah agar “musibah klasik” itu tidak terus terjadi. Jika tidak, Kota Medan akan terus “tergenang” meski tetap disayang.

Irwan/ANTARA

(T.PK-WAN/B/H-KWR/H-KWR) 01-11-2008 21:03:51)

Foto: http://dedypunya.files.wordpress.com/2008/03/medan-city-1.jpg

Bookmark and Share

Artikel ini telah dibaca 14 kali.

Popularity: 7% [?]

Posted by Andri Aulia on Nov 2nd, 2008 and filed under Unik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Leave a Reply