Kenduri Punggahan

Medan, 19/8 (www.antarasumut.com).- Warga perumahan wartawan Medan, Jalan Sidorukun dan komplek pemda, yang saling berjiran, Selasa (18/8) malam menggelar kenduri “punggahan” menyambut datangnya bulan Ramadhan, yang tinggal menghitung hari. Acara punggahan itu benar-benar padat dan melelahkan, tapi ratusan jemaah yang hadir sangat antusias melaksanakannya.

Seusai sholat Maghrib berjamaah, acara diisi dengan tausyiah (ceramah) mengenai Ramadhan. Ceramah ini umumnya menyangkut silang pendapat mengenai sholat Tarawih pada malam hari. Ada kelompok yang melaksanakannya dengan 23 rakaat, termasuk tiga rakaat sholat Witir. Tapi ada juga yang melaksanakannya dengan 8 rakaat ditambah tiga rakaat Witir.

Usai ceramah  kemudian dilanjutkan dengan sholat Isya. Rampung sholat Isya dilanjutkan dengan zhikir bersama, yang lamanya cukup lumayan. Kemudian para jemaah saling bersalaman dan memaafkan, sehingga ketika melaksanakan ibadah puasa, sudah merasa terlepas dari permasalahan dunia. Acara terakhir yakni makan bersama bagi semua yang hadir.

Umat Islam Indonesia kaya dengan tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Kata “punggahan” bermakna “naik (munggah)”, yakni meninggalkan yang tidak baik guna mencapai yang lebih baik. Tradisi punggahan ini masih tetap dilaksanakan di kampung-kampung. Ada yang khusus menggelar kenduri punggahan di rumahnya sendiri dengan mengundang para tetangga, sanak famili dan kerabat.

Minggu terakhir menjelang Ramadhan, banyak warga yang menggelar kenduri, yang waktunya diatur sedemikian rupa, sehingga usai kenduri dari satu rumah lantas ke rumah lain. Hidangan yang lazimnya dihabiskan di tempat kenduri, bisa dibawa pulang untuk dimakan sekeluarga. Nasi berikut lauk pauk yang dibawa pulang itu lazim disebut “berkat”.

Tapi ada yang lebih meriah lagi. Jika kenduri digelar di mesjid, seusai sholat Isya, setiap jemaah membawa nasi berikut lauk pauknya yang dibungkus daun di atas tampah. Semua tampah yang dihidangkan itu, bergeser ke sana kemari, sehingga  orang yang membawa tampah itu makan hidangan yang dibawa orang lain. Demikian juga sebaliknya. Tradisi ini benar-benar menggembirakan dan membangun rasa keakraban sesama jemaah mesjid.

Masih ada lagi tradisi menyambut Ramadhan yang khas di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut. Para pemuda, pemudi, anak-anak dan bahkan ada juga orang tua, mandi-mandi atau membersihkan diri dengan wangi-wangian di sungai Batang Gadis. Tradisi yang dikenal dengan sebutan “marpangir” masih terus berkembang sampai saat ini. Bahan wangi-wangian itu di antara bunga pinang dan sebagainya.

Semua menyambut gembira datangnya bulan Ramadhan. Ada hadist Rasulullah SAW yang mengatakan, “Barang siapa yang menyambut gembira datangnya bulan Ramadhan, Allah SWT mengharamkan kulitnya dari api neraka”. Alasannya, bulan Ramadhan penuh dengan pengampunan dan peluang untuk menumpuk pahala. Pada bulan tersebut, jika seseorang bersedekah segantang beras, Allah SWT membalasnya 70 kali lipat.

Itulah sebabnya, masyarakat Islam di Sumut merasa sangat terusik, ketika pemerintahan Orde Baru (di era Daoed Joesoef menjadi Mendikbud) mengharuskan anak-anak tetap sekolah pada bulan Ramadhan. Dampaknya benar-benar menyedihkan, karena banyak pelajar yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa, apalagi yang harus masuk kelas giliran tengah hari.

Tidak semua sekolah mampu menampung murid di pagi hari. Untuk menumpuk pahala, mereka juga mengkaji (tadarus) Al Quran, sehingga siangnya menjadi ngantuk.  Para ulama sudah mengingatkan, “Ilmu tanpa iman sesat dan iman tanpa ilmu buta”. Akibatnya kini benar-benar terasa, karena negara ini ramai dengan koruptor, yang umumnya orang-orang berilmu.

Guna menghindarkan salah kaprah yang sempat terjadi di masa sebelumnya, idealnya seluruh sekolah diliburkan selama bulan Ramadhan. Depag harus dapat menyediakan anggaran guna menyelenggarakan pesantren kilat di sekolah-sekolah untuk mendidik pelajar meningkatkan iman di samping ilmu. (R01MOS).-

Bookmark and Share

Artikel ini telah dibaca 56 kali.

Popularity: 3% [?]

Posted by Ramothu SD. on Aug 19th, 2009 and filed under Editorial. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Leave a Reply