Medan, 16/3 (www.antarasumut.com).- Pemilu 2009 ini ditandai dengan beberapa “dadakan”. Para calon anggota legislatif (caleg) mendadak menjadi dermawan, dengan menyumbang ke sana ke sini dan entah kemana-mana lagi dalam upaya merebut simpati. Juga menjadi sukarelawan mendadak, dengan mengunjungi kampung-kampung bersama warga gotong royong membersihkan parit dan lingkungan dan kemudian bicara soal kesehatan, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Mendadak berpihak pada rakyat dengan suara vokal, mengkritik kebijakan pemda dalam berbagai hal seperti KTP, salah urus, banjir kiriman, pajak dan bahkan sampai pada kasus korupsi. Mendadak rajin ke masjid yang sebelumnya jarang dilakukannya.
Seluruh langkah-langkah itu masih dalam batas wajar dan dapat diterima dengan pikiran yang jernih dengan dada yang lapang dan akal yang sehat. Wajar para caleg mengeluarkan banyak biaya untuk mengiklankan dirinya dengan baliho, spanduk, papan nama, pamflet, kartu nama berikut dengan nomor yang harus dijoblos di bawah bendera partai. Tanda pengenal yang dapat disebut kampanye terselubung itu dipasang di tempat-tempat strategis sehingga mudah dilihat orang. Akibatnya pohon kayu, pagar, tembok dan sebagainya ikut jadi korban. Ada juga yang diterbangkan angin, dan warga setempat tidak perduli dengan gambar yang terbengkalai itu.
Bagi yang punya kenderaan pribadi, dengan tenang menempelkan gambarnya pada kaca kenderaannya. Akan tetapi lebih banyak yang menumpang tempel pada angkot dan beca bermotor. Penarik beca juga gembira karena baliho dapat dimanfaatkan bagi becanya guna melindungi penumpang dari panas terik mata hari atau hujan. Tidak perduli gambar itu tersenyum, meringis, tertawa, seperti marah atau orang kekenyangan. Dengan mengelilingkan gambar caleg tersebut,diharapkan warga akan mengenal tokoh yang terpampang gambarnya.
Media massa juga meraup rezeki dengan iklan-iklan kampanye. Apakah para calon itu dikenal massa atau tidak, hal itu urusan belakangan.
Pemilu tahun 2009 ini diramaikan dengan 38 partai dengan masing-masing nama caleg dan 38 calon anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah} yang independen, atau sejenis dengan Senator di negara-negara demokrasi liberal. Setiap provinsi diwakili 4 anggota DPD, sehingga pertarungan merebut dukungan menjadi kian sengit. Terasa menggembirakan karena ada sejumlah wartawan turut memperebutkan posisi ini. Wartawan tidak hanya lihai membuat berita terutama talking news, tapi juga terbukti mampu mencetak statement yang menjadi berita.
Berbeda dengan pemilu masa lalu, pemilu kedua di era reformasi ini menguntungkan banyak pihak. Tukang sablon, penarik beca, tukang panjat pohon, perusahaan garment mau pun perusahaan media massa, masing-masing tertimpa rezeki. Bagi setiap calon harus siap untuk kalah tanpa harus kelimpungan dengan menyalahkan tim suksesnya. Demokrasi memang mahal dan perlu perjuangan yang melelahkan. (R01/MOS)
Popularity: 3% [?]