Medan, 3/7 (www.antarasumut.com).- Sumut mulai ketakutan menghadapi penyakit HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/ Aquired Immuno Deficiency Syndrome), suatu jenis penyakit paling mutakhir, yang membuat penderita merana seumur hidupnya, karena belum diketemukan obat penyembuhnya. Sampai dengan April 2009 tercatat 1.680 kasus yang terdiri dari penderita HIV sebanyak 808 kasus dan pengidap AIDS sebanyak 872 kasus.
Virus yang memerosotkan kekebalan tubuh ini, sebenarnya gampang menular lewat jarum suntik seperti pengguna narkoba, hubungan badan dengan pelacur atau seks bebas dengan resiko tinggi. Jika ada pasien datang berobat ke klinik dan disuntik, maka idealnya jarum suntik itu dibuang dan tidak dipergunakan lagi untuk menyuntik pasien berikutnya. Kewaspadaan harus tinggi, karena tidak tertutup kemungkinan pasien pertama itu mengidap HIV.
Kewaspadaan ini harus benar-benar dikembangkan, karena pada tahun 2014 diprakirakan akan ada bayi positif mengidap HIV sebanyak 1.531 kasus. Mana ada warga yang merasa curiga jika ada bayi yang mengidap HIV datang berobat lantas disuntik. Jarum suntik yang sama jika dipergunakan pada pasien berikutnya, maka sosok tersebut menambah panjang deretan daftar penderitaan HIV. Jika logistik yang masuk ke perut tidak dijaga gizinya, akibatnya dapat diraba akan terperangkap menjadi HIV/AIDS.
Untuk itu para perawat di Puskesmas, klinik, dokter praktek terlebih-lebih di rumah sakit umum, dianjurkan untuk membuang jarum suntik yang sudah dipergunakan, guna mencegah kemungkinan merebaknya penyakit HIV. Jadi bahaya penularan lewat jarum suntik bukan saja di kalangan pencandu narkoba, tapi juga bisa melalui rumah sakit, dokter praktek dan sebagainya. Lebih baik merugi kecil dengan membuang jarum suntik, dari pada merugi besar dengan bertambahnya penderita HIV.
Dalam tahun 1950-an ketika kondisi negara masing compang camping, tim kesehatan dari kabupaten dengan mobil pick up setiap minggu menyambangi kampung-kampung pada hari pekan. Selain berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari, orang-orang kampung menyempatkan diri berobat. Para perawat atau mantri kesehatan (ketika itu tenaga dokter masih langka), membakar jarum suntik yang sudah dipakai dengan spiritus, sebelum disuntikkan pada orang berikutnya.
Pada masa itu mantri dan perawat sudah menyadari, jarum suntik dapat jadi media penularan penyakit. Padahal ketika itu penyakit di kampung-kampung terutama malaria, flu, batuk-batuk, puru (patek), pekong, gatal-gatal dan demam panas. Penyakit gadam (kusta) dan tbc (tuberclosis) belum dapat disembuhkan.
Guna menghindarkan penyebaran penyakit kusta dan tbc, yang masih sulit diditeksi, jarum suntik dibakar dengan spiritus.
Tindakan warga desa yang mengucilkan tetangganya yang dicurigai mengidap HIV/AIDS memang tidak dapat disalahkan, karena siapa pun orangnya pasti khawatir tertular dengan penyakit, yang setelah bertahun-tahun membuat tubuh seperti tengkorak hidup. Tubuh kurus kering dan rentan terhadap segala penyakit, akibat merosotnya kekebalan tubuh. Jika penderita HIV/AIDS terserang flu ringan, tidak akan sembuh walau makan obat anti flu segerobak. Bahkan penyakit ringan itu dapat menggiringnya menjadi maut.
Walau pun dokter-dokter atau pejabat instansi kesehatan memberitahu, penyakit HIV/AIDS tidak menular dengan cara seperti berjabatan tangan, bersentuhan dan sebagainya, tapi resiko tetap ada. Apabila seseorang luka kecil misalnya terkena goresan pisau dan bersenggolan dengan penderita HIV/AIDS, melalui luka kecil itu, penyakit yang belum ada obat penyembuhnya itu akan menular. Hal itu bermakna, jumlah penderita penyakit yang mengerikan ini bertambah.
Untuk mengetahui seseorang menderita penyakit HIV pada tahap dini memang sulit. Bahkan si penderita itu sendiri tidak mengetahuinya, terkecuali memeriksakan diri ke rumah sakit. Kalau pun kemudian dia mengetahui mengidap penyakit yang dianggap kutukan itu, ia tetap menyembunyikannya, karena malu pada keluarga, teman, kerabat dan handai tolan.
Untuk menjaga penyakit tersebut agar tidak terpuruk menjadi HIV/AIDS, kalau mampu penderita terus menerus mengkonsumsi makanan bergizi. Tapi bagi penderita yang miskin, ia akan menjadi lebih terpuruk. Penderita akan hidup merana sampai sisa usianya. Bahayanya, penyakit itu menular pada keluarganya, karena pada umumnya penderita penyakit yang mengerikan ini, kelompok usia
produktif.
Warga yang masih dalam kondisi sehat wal afiat, idealnya menghindari hal-hal yang dapat tertular penyakit HIV/AIDS. Jauhilah hal-hal yang dilarang agama seperti seks bebas, gonta ganti pasangan, narkoba, dan sebagainya. Upayakan agar tidak disuntik walau menderita penyakit, ketika berobat ke klinik atau mantri kesehatan di kampung-kampung. (R01MOS).-
Popularity: 3% [?]