Medan, 22/3 (www.antarasumut.com).- Tionghoa, salah satu etnis yang sudah berabad-abad dan turun temurun bermukim di Indonesia, kini tampil sebagai salah satu suku yang memperkaya ke-Bhineka Tunggal Ika-an Indonnesia, dengan munculnya organisasi Peguyuban Sosial Marga Tionghoa Indodnesia (PSMTI), berikut dengan organisasi turunannya seperti pemuda dan sebagainya. Kehadiran organisasi sosial ini mirip dengan kebangkitan etnis Tionghoa, yang sebelumnya hanya berkutat di dunia bisnis, kini mulai merambah ke sektor lain.
Dalam Pemilu 2009, sejumlah tokoh dari etnis ini sudah berani tampil sebagai calon anggota legisltif (caleg), dengan mengibarkan bendera berbagai parpol. Keberanian ini sebenarnya tidak pernah diperhitungkan rekan-rekan dari etnis lainnya. Setelah berjaya maju sebagai caleg, berhasil terpilih atau tidak, hal itu urusan kemudian, generasi muda warga Tionghoa juga harus siap membidik formasi lain seperti PNS, militer dan juga Polri. Mereka dipercaya mampu menempati posisi kunci pada jabatan yang selama ini belum sempat terjamah mereka.
Tionghoa atau katakanlah secara internasional disebut dengan “China”, sebenarnya merupakan salah satu nenek moyang bangsa Indonesia. Berdasarkan sejarah, ratusan abad yang silam atau mungkin masih dalam zaman pra sejarah, orang Yunan di Cina selatan berlayar dan mendarat di kepulauan nusantara. Demikian dengan orang India Selatan, atau dengan kata lain orang Tamil yang kulitnya hitam legam, juga berlayar dan mendarat di nusantara ini. Akultrasi (perpaduan) orang Yunan yang berkulit kuning langsat dan Tamil yang di Medan kesohor dengan panggilan “orang Keling”, serta penduduk pribumi seperti Kubu, Sasak, Dayak dan sebagainya, mewujudkan generasi baru yang berkulit sawo matang yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia.
Berbeda dengan turunan Keling yang cepat berintegrasi dengan masyarakat Indonesia, orang-orang Tionghoa seperti bertetangga dengan orang asing. Mereka seperti membangun komunitas tersendiri yang terkesan ekslusif. Bahkan banyak di antara mereka yang membangun rumah dengan tembok keliling seperti “great wall” atau tembok besar di negara leluhurnya, untuk menghempang masuknya bangsa Manchu yang kerap mengganggu bangsa Han. Ketakutan sejak era leluhur itu sulit dihapus sampai detik ini, dengan kelompok yang dicurigai yakni tetangganya sendiri yakni orang Indonesia.
Sifat ekslusif ini umumnya terjadi pada orang-orang Tionghoa yang berada di belahan timur Sumatera, perairan Riau dan belahan barat Kalimantan Barat. Di Singkawang (Kalbar), suatu kota kecamatan, tercatat sekitar 70 persen penduduknya warga turunan Tiongha, mirip dengan “Pecinan” (China Town). Bahkan tembikar atau gerabah produksi warga turunan dari kawasan ini, tidak kalah mutunya dengan gerabah yang berasal dari tanah leluhurnya di Tiongkok. Sebaliknya di kawasan pantai barat banyak warga turunan yang fasih berbahasa setempat seperti di Sibolga, Padang Sidimpuan dan demikian juga di Padang, Sumbar dan serta kota-kota di Jawa. Banyak warga turunan Tionghoa di Jawa yang justru sehari-hari berbahasa Jawa dalam berkomunikasi sesama mereka.
Turunan Keling mampu berintegrasi (melarut) dengan tetangganya yang pribumi. Contoh paling aktual yakni Haji Hasan Perak (almarhum), ayahanda H. Syamsul Arifin SE, yang kini menjadi orang “nomor satu” di Sumut. Tetangganya di kota minyak Pangkalan Berandan mengetahui dengan cermat, bahwa Pak Haji, orang kaya yang dermawan itu turunan Keling. Tapi ia melarut dengan suku Melayu, sehinga dia tidak terpisahkan dari kehidupan etnis Melayu. Bahkan Syamsul, salah seorang puteranya mendapat gelar kebangsawanan Melayu, Sri Lelawanga Hidayatullah.
Demikian juga dengan Jenderal (purn) Achmad Tahir, yang pernah memangku jabatan Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkowilhan)-I Sumut/Kalbar di Medan. Berdasarkan riwayat hidupnya, ia jelas turunan etnis Jawa. Tapi ia larut dengan kehidupan dan tradisi Melayu, hingga kemudian dia diangkat menjadi “sesepuh etnis Melayu”. Ketika menjadi Pangkowilhan, ia membangun sejumlah proyek di kawasan pantai timur Sumut, yang mayoritas masyarakatnya etnis Melayu. Semasa masih memegang kekuasaan, ia berupaya keras meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Melayu hingga setara dengan etnis lainnya dalam bidang ketrampilan dan perekonomian.
Munculnya etnis Tionghoa sebagai salah satu suku bangsa Indonesia, yang sebenarnya stock lama, perlu mengikuti langkah-langkah etnis lainnya yang cepat berintegrasi dengan membuang jauh-jauh rasa kecurigaan pada tetangganya sendiri. Kemampuan berorganisasi etnis Tionghoa, tidak perlu diragukan lagi, bahkan dengan cepat melesat dibandingkan dengan suku-suku lainnya seperti Melayu, Banjar (Kalimantan) atau Jawa dan sebagainya, yang menyatu karena ikatan batin dan kekeluargaan. Jika organisasi sosial berkembang pesat, berkat dukungan dana yang kuat, namun kemampuan berintegrasi tipis, maka ia akan tetap menjadi organisasi yang eksklusif. (R01/MOS)
Popularity: 3% [?]