Medan, 24/11 (ANTARA) - Para pengrajin alat musik gitar di Medan mengeluhkan sulitnya pemasaran dan kurangnya modal untuk meningkatkan volume usaha menyusul masuknya produk gitar dari Pulau Jawa.
Syamsuddin (82), salah seorang pengrajin gitar di Jalan Setia Luhur, Medan, Selasa, mengatakan usaha kerajinan gitarnya masih terkendala modal dan pemasaran.
“Banyaknya gitar dari Jawa di pasaran membuat produk kami kehilangan konsumen, sehingga sulit untuk mengembangkan usaha,” katanya.
Produk kerajinan yang digelutinya sejak 50 tahun lalu itu lebih banyak dipasarkan di kota Medan. Setiap bulannya ia mengaku hanya mampu memproduksi 20 buah gitar.
Harga bahan baku yang mahal juga sangat mempengaruhi usaha gitarnya, sehingga para pengrajin mau tidak mau membuat gitar dengan bahan triplek.
“Kami juga tidak mampu melayani permintaan karena keterbatasan modal untuk membeli bahan baku,” katanya.
Untuk modal usahanya ia mengaku mendapatkannya dari sebuah toko yang setia menerima produk kerajinannya. “Jadi kami hanya bergantung pada toko itu. Bila laku, hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari dan tambahan modal usaha,” katanya.
Produk gitar dijual dengan harga bervariasi tergantung ukurannya. Gitar mini Rp45 ribu sedangkan gitar besar Rp80 ribu per unitnya.
Ia berharap pemerintah mau memberikan tempat atau wadah bagi para pengrajin di Medan untuk membantu mengembangkan serta memasarkan usaha. ***2***
(T.PSO-021/B/R014/R014) 24-11-2009 17:00:37
Popularity: 1% [?]