Medan, Antara Sumut – Wayang yang dikenal sebagai salah satu jenis kesenian etnis Jawa, kini mulai dipinggirkan di Sumut. Kesan ini terlihat ketika Sabtu malam yang baru lalu digelar pertunjukkan wayang di salah satu rumah di Marelan, Medan, sehubungan dengan hajatan perkawinan. Berbeda dengan pesta perhelatan di tempat-tempat lain yang lazimnya menggelar musik keyboard tunggal dengan biduan dang-dut atau lagu-lagu pop, keluarga Margono yang “punya gawe”, justru menghibur tamunya dengan wayang kulit dengan lakon “Arjuna Wiwaha”.
Nonton wayang di Medan dewasa ini sudah merupakan hal yang langka, walau pun para penggemarnya cukup lumayan, terutama etnis Jawa yang bermukim di kawasan pinggiran kota. Sampai menjelang tengah malam, banyak penonton yang masih memadati tempat pertunjukkan, kendati pun dinginnya angin malam sudah terasa.
Supardi, tokoh yang dituakan dalam lingkungan keluarga tersebut, ketika dihubungi Antara mengatakan, pertunjukkan wayang untuk satu lakon minimal menelan waktu 5 jam. Biaya yang dibutuhkan berkisar Antara Rp 10 juta s-d Rp 15 juta. “Tidak ada perbedaaan antaqra wayang asli di Jawa dengan yang di Sumatera,” katanya dengan nadah ramah.
Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Komisariat Sumut, Sugiono ketika dihubungi secara terpisah di tempat yang sama,mengungkapkan tentang kayanya etnis Jawa dengan aneka ragam kesenian. Selain wayang masih ada lagi ludruk, reog, kuda lumping dan sebagainya. Bertebarnya kesenian Jawa itu di Sumatera, sehubungan dengan dibukanya perkebunan di daerah ini dengan mendatangkan banyak orang Jawa sebagai pekerja yang kemudian dikenal dengan “Jawa Kontrak (Jakon)”.
Mulai dengan adanya “Jakon” tersebut, wayang tersebar di berbagai daerah ini yang pada awalnya juga digemari etnis lain. Daerah penyebaran terutama di Simalungun, Asahan dan Langkat. Menurut Sugiono, wayang bukan sekedar tontonan, tapi juga tuntunan dan tatanan, yang menggambarkan simbol-simbol kehidupan. Sejarah pewayangan di Jawa awalnya dilakukan Sunan Kalijaga sebagai media untuk berdakwah.
Kesenian ini kemudian berkembang dan menjadi pedoman agar orang-orang Jawa khususnya tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan. Guna lebih memeriahkan pertunjukkan wayang, biasanya dilengkapi dengan pesinden (wanita penyanyi), yang mendendangkan lagunya mengikuti alur cerita. Setiap pesinden biasanya dibayar Rp 2 juta sehingga semakin banyak pesinden, semakin tinggi biayanya. Bagi yang mampu , pertunjukkan wayang ini dilakukan selama satu hari satu malam. Sedangkan bagi yang kurang mampu cukup satu malam saja dan lazimnya pefrtunjukkan wayang dilakukan pada malam hari. (S01/R01)
Popularity: 18% [?]
kemana Indonesia akan dibawa?
kemana jati diri bangsa akan menuju?
kebudayaan di indonesia jangan lah sampai hilang, apa lagi dilupakan baik itu dari daerah manapun tanpa terkecuali…
khususnya wayang diindonesia..kemana kini biasanya hanya ditampilkan kalua ada acara saja….timbulkan kreatifitas untuk memperkenalakan apa itu wayang..orang yang belum tau tentang wayang hanya mengira wayang oh wayang
jadi perkenalkan ke masyarakat dan berikan rangsangan kepada pemudanya
Mari kita junjung tinggi budaya bangsa kita yang hampir hilang ditelan masa…
Wayang adalah salah satunya