|Jumat, Oktober 31 2014
Anda Berada Di: Home » Kabupaten/Kota » Langkat » Pencurian Hambat Proyek PLTU Pangkalan Susu


Pencurian Hambat Proyek PLTU Pangkalan Susu 

Oleh Imam Fauzi

Ilustrasi - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). (Foto: Antara)

Ilustrasi – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). (Foto: Antara)

Langkat,  19/9 (Antara) – Pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara saat ini menghadapi kendala berupa aksi pencurian peralatan transmisi dan pembebasan lahan.

“Kedua masalah tersebut menjadi penyebab utama terlambat beroperasinya PLTU,” kata Manager PLTU Pangkalan Susu Armansyah Purba di Pangkalan Susu, Kamis.

Padahal, menurut dia, bila hal itu tidak terjadi maka diyakini PLTU tersebut akan secepatnya bisa beroperasi.

“Mudah-mudahan bulan Oktober tahun ini sudah bisa dilakukan uji coba, ” katanya.

Armansyah menjelaskan, aksi pencurian besi menara atau tower transmisi marak terjadi dari jalur PLTU Pangkalan Susu menuju sejumlah gardu induk PLN di Kota Binjai.

Sehingga sejumlah tower harus diperbaiki kembali, karena banyak besi pendukung tower hilang.

Selain itu, dua tower transmisi di Kecamatan Batang Serangan juga ambruk beberapa bulan lalu akibat diterjang angin puting beliung.

Selain kasus pencurian besi tower, proyek PLTU tersebut juga masih mengalami kendala pembebasan lahan untuk lokasi tower.

Ia berharap proses pemasangan jaringan transmisi listrik tersebut selesai pada Septembet 2013 dan selanjutnya bisa segera dilakukan uji coba pembangkit.

Kendala krusial lain, yaitu salah satu perusahaan peserta konsorsium yang terlambat mengerjakan bangunan sipil, sehingga alat mekanikal yang seharusnya bisa terpasang tepat waktu menjadi tertunda.

Dikatakannya, jika proyek PLTU itu tuntas secara keseluruhan, diperkirakan akan mampu menghasilkan energi listrik sebesar 2×200 mega watt (MW).

Amansyah menambahkan, proyek PLTU tersebut menghabiskan biaya sebesar Rp2 triliun.

“Pengerjaan mesin pembangkit sudah rampung 94 persen, sedangkan pembangunan sejumlah sarana pendukung sudah mencapai 82 persen,” ujarnya.

Pembangunan PLTU yang dikerjakan oleh tiga konsorsium tersebut, jika kelak beroperasi maksimal akan mampu mengatasi defisit listrik di Sumatera Utara dan Aceh. (KR-IFZ)

 

Masukkan Komentar