BI Optimis Sejumlah Amunisi Perkuat Rupiah

Jakarta, 18/2 (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) optimis bahwa sejumlah “amunisi” akan memperkuat kembali nilai tukar rupiah yang akhir-akhir ini melemah.

“Kami terus melihat perkembangannya dan menambah amunisi,” kata
Gubernur BI, Boediono ditemui usai menghadiri rapat Komisi XI DPR di
Jakarta, Selasa.

Ia mencontohkan, amunisi itu antara lain rencana pemerintah yang akan melakukan berbagai pinjaman luar negeri.

“Pinjaman-pinjaman itu akan memperkuat anggaran dan tentunya juga nilai tukar rupiah,” katanya.

Sementara itu mengenai “bilateral swap arrangement” (pengaturan tukar-menukar cara bilateral), Boediono mengatakan, itu merupakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan setiap saat oleh negara anggota yang membutuhkan.

“Memang ada usulan untuk meningkatkan dana ‘swap’ itu, tapi nanti
diungkapkan setelah ada kesepakatan saja,” kata Boediono.

Menurut dia, gejala pelemahan nilai tukar tidak hanya terjadi di
Indonesia tetapi juga negara-negara di kawasan lain. “Di luar juga ada, karena keterkaitan ‘currency’ (mata uang) satu sama lainnya,” katanya.

Sebelumnya Menkeu Sri Mulyani juga mengungkapkan bahwa akselerasi
“Chiang Mai Initiative” akan menjadi salah satu agenda sidang tahunan ADB tahun ini.

Pada pertemuan itu diharapkan dapat diumumkan jumlah dana dalam
kerjasama Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), sebagai upaya bersama dalam menanggulangi dampak krisis keuangan global terhadap negara-negara anggota.

Dengan adanya peningkatan jumlah dana (pooling fund) yang dapat diakses oleh anggota, diharapkan dapat menjadi sumber kepercayaan pasar karena tersedianya tambahan cadangan devisa jika dibutuhkan oleh anggota.

Kawasan ASEAN+3 (Jepang, Korsel, China) akan menjadi model kawasan
dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan diharapkan dapat mendorong
terciptanya kerjasama ekonomi Asia dan Pasifik.

Implementasi CMIM yang diantaranya penyediaan bantuan likuiditas yang signifikan bagi cadangan devisa, dalam tempo singkat dengan persyaratan yang tidak memberatkan, diperlukan tidak saja untuk meminimalkan dampak langsung krisis pada negara yang memerlukan bantuan, namun juga dampak lanjutannya pada negara-negara anggota lainnya.

ADB akan memberikan dukungan antara lain dalam bentuk pengawasan
bersama sekretariat ASEAN.

Sementara itu mengenai pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat seperti diungkapkan BPS, Boediono mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV memang biasanya mengalami penurunan.

“Saya kira untuk kuartal IV memang biasanya turun,” katanya.

***2***

(A039)
(T.A039/B/Z004/C/Z004) 17-02-2009 17:04:16

Bookmark and Share

Artikel ini telah dibaca 4 kali.

Popularity: 2% [?]

Ditulis oleh ANTARA Sumut pada 18 February 2009 dan dikategorikan di Uncategorized. Kamu dapat mengikuti berita kami dengan masuk kedalam RSS 2.0. Kamu dapat meninggalkan komentar atau pesan terkait berita / artikel diatas melalui form dibawah ini

Tinggalkan Komentar